Aliansi Darah dan Lahirnya Kampung Makasar
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Matahari Batavia menyengat keras, memanggang debu dan lumpur sisa hujan semalam di beranda sebuah pos jaga kompeni. Di sana, Daeng Matara mengusap laras senapan Eropa berukir dengan jemarinya yang kapalan, menyusuri logam dingin yang kini menjadi tiket keselamatannya.
Matanya yang menyipit menatap belasan pemuda berwajah keras dari Gowa, kini terbalut seragam serdadu kompeni yang asing bagi kulit mereka. Mereka bukan lagi budak belian yang diturunkan paksa dari geladak kapal setelah kekalahan pedih di Perjanjian Bongaya pada tahun 1667.
Angin pesisir membawa bau garam campur keringat dari arah pelabuhan, mengingatkan sang kapten pada kampung halaman di seberang lautan sana. Di pundaknya, ia memikul beban yang sangat berat untuk memastikan kaumnya tetap bertahan hidup di tanah pengasingan ini.
Membaca celah keputusasaan kolonial Belanda yang mulai kehabisan serdadu, Daeng menukar kepatuhan semu bangsanya dengan kepemilikan bedil. Status mereka diubah menjadi pasukan bantuan militer, sebuah paradoks yang menggores harga diri ksatria namun memastikan perut warganya tetap terisi.
Pada tahun 1686, ia mengambil langkah berani dengan memisahkan komunitasnya dari hiruk-pikuk pusat Batavia yang sumpek dan dipenuhi mata-mata. Ia memilih sebidang lahan basah di wilayah selatan, sebuah tempat yang cukup jauh agar mereka terbebas dari tatapan curiga kompeni.
Tak lama berselang, ia menikahkan putrinya dengan Pangeran Purbaya dari Banten dalam sebuah perayaan yang sejatinya adalah aliansi darah. Lewat besan yang memiliki banyak lahan di Condet tersebut, Daeng Matara sukses membangun pagar politik tak kasat mata untuk melindungi warganya.
Sayangnya, tangan-tangan keras orang Makassar itu lebih luwes menggenggam gagang badik ketimbang mengayunkan cangkul di ladang. Lantaran tak pandai bercocok tanam, lahan-lahan luas itu pada akhirnya disewakan hingga perlahan jatuh ke penguasaan para tuan tanah Eropa.
Memasuki tahun 1810, Gubernur Jenderal Daendels akhirnya melebur sisa-sisa prajurit Makassar itu ke dalam kesatuan batalion Bugis. Perlahan wajah-wajah tirus dan aksen Lontara itu mereda, berbaur lewat pernikahan lokal dan menyatu selamanya dalam entitas masyarakat Betawi.
Kini di bawah langit kelabu Jakarta Timur, deru mesin pesawat dari Bandara Halim Perdanakusuma seakan menenggelamkan gema masa lampau. Meski pahlawan Gowa itu telah lama tertidur di bawah lapisan aspal, sebuah plakat jalan bertuliskan Kecamatan Makasar tetap berdiri diam memantulkan cahaya senja. (*)